Novak Djokovic Tumbangkan Zverev di China Open

Novak Djokovic kembali menunjukkan kelasnya dengan mengalahkan Alexander Zverev 4-6, 6-4, 6-4 pada babak perempat final China Open di Beijing. Kemenangan tersebut mengantar petenis Serbia berusia 39 tahun itu melaju ke semifinal, sekaligus menjaga rekor tanpa cela sepanjang keikutsertannya di turnamen ini.

Hasil ini terasa istimewa karena Djokovic datang dengan musim yang terganggu berbagai masalah fisik dan belum sekalipun mengangkat trofi sepanjang tahun. Sementara itu, Zverev melangkah ke laga ini sebagai juara Prancis Terbuka dan AS Terbuka, sehingga kekalahan tersebut menghentikan laju petenis Jerman yang sedang dalam performa terbaik sekaligus memangkas peluangnya mengumpulkan poin menuju peringkat satu dunia.

Jalannya Laga: Djokovic Bangkit Setelah Kehilangan Set Pertama

Pertemuan pertama kedua pemain dalam hampir 16 bulan itu berjalan berat bagi Djokovic di awal pertandingan. Zverev memanfaatkan kekuatan pukulannya untuk menekan sejak set pembuka, dan petenis Serbia itu sempat kesulitan menemukan ritme permainannya di kondisi lapangan yang dingin. Set pertama akhirnya jatuh ke tangan Zverev dengan skor 6-4.

Djokovic mengakui sendiri bahwa ia memulai laga dengan buruk. “Saya memulai pertandingan dengan sangat buruk, dua double fault di awal. Cuacanya cukup dingin dan jujur saja saya belum merasa panas, tapi itu kesalahan saya,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa ia sempat kehilangan servis di awal, lalu mendapat beberapa break point saat Zverev melakukan servis untuk menutup set pada kedudukan 5-4, tetapi gagal memanfaatkannya.

Meski begitu, Djokovic merasa sudah mulai menemukan pola permainan yang baik sejak pertengahan set pertama, terutama pada servisnya dan pukulan setelah servis. Perlahan ia menahan laju Zverev dan menolak membiarkan lawannya menjauh. Titik balik terjadi pada akhir set kedua, ketika Djokovic mematahkan servis lawan pada kedudukan 5-4 dan menyamakan kedudukan menjadi satu set sama.

Pada set ketiga, kedua pemain tampil berimbang dengan selisih tipis. Djokovic kembali mencuri break pada kedudukan 5-4 lewat servis Zverev, dan break itu menjadi penentu kemenangannya. Sepanjang laga, ia menunjukkan kemampuan bertahan di bawah tekanan meski musimnya sempat terganggu masalah fisik.

Rekor Sempurna Novak Djokovic di Beijing

Kemenangan atas Zverev membawa Djokovic ke catatan 32 kemenangan tanpa kekalahan di Beijing. Angka itu menjadikannya pemilik awal terbaik seorang petenis pada satu turnamen level tur di era Open, melampaui rekor Rafael Nadal yang memenangi 31 pertandingan pertamanya di Prancis Terbuka.

Djokovic memang punya sejarah panjang yang istimewa di China Open. Ia merupakan juara enam kali, sebuah rekor di turnamen ini, dan sebelum kembali tahun ini ia telah memenangi seluruh 29 pertandingannya. Terakhir kali ia tampil di Beijing adalah pada 2015, ketika ia mengalahkan Nadal di partai final untuk mengunci gelar keenamnya.

Karena itu, kembalinya Djokovic ke Beijing bukan sekadar kehadiran rutin. Setiap penampilannya di turnamen ini memperkuat reputasi sebagai pemain yang mampu beradaptasi cepat dengan kondisi lapangan dan tekanan penonton. Rekor sempurna tersebut juga menegaskan bahwa meski usia terus bertambah, daya saingnya di level atas belum pudar.

Arti Kemenangan Ini bagi Djokovic dan Zverev

Bagi Djokovic, hasil ini membawanya selangkah lebih dekat menuju gelar China Open ketujuh sekaligus trofi pertama yang selama ini sulit ia raih sepanjang tahun. Kemenangan tersebut juga menunda kesempatan Zverev untuk memperkuat posisinya dalam perburuan peringkat satu dunia. Dengan kata lain, satu laga ini berdampak pada dua arah: ambisi gelar Djokovic dan target peringkat Zverev.

Catatan statistik menambah bobot pencapaian ini. Djokovic menjadi pria ketiga dalam sejarah ATP, sejak pencatatan dimulai pada 1973, yang mampu mengalahkan lawan berperingkat tiga besar setelah melewati usia 39 tahun. Dua nama yang lebih dulu melakukannya adalah Ken Rosewall dan Jimmy Connors.

Djokovic mengaku masih menikmati momen-momen seperti ini. “Jujur saja, momen-momen seperti inilah yang masih saya perjuangkan,” katanya. Ia menyebut motivasinya besar ketika merasa bugar dan bisa bersaing setara dengan pemain terbaik dunia di hadapan sekitar 15.000 penonton.

Ia juga mengakui tahun ini berat karena berbagai alasan, namun menegaskan dirinya masih bertahan dan terus berjuang. “Saya masih di sini, masih bekerja keras, masih membuat para pemain muda harus berjuang untuk penghasilan mereka,” ujarnya. Ia menyatakan senang bisa melewati laga ini dengan baik.

Medvedev Menanti di Semifinal

Langkah Djokovic berikutnya adalah menghadapi Daniil Medvedev di babak semifinal. Sebelumnya, Medvedev lebih dulu memastikan tempat di empat besar setelah mengalahkan Francisco Cerundolo dengan skor 7-6 (7-4), 6-3. Laga ini akan menjadi ujian berikutnya bagi Djokovic untuk mempertahankan rekor sempurnanya di Beijing.

Duel melawan Medvedev menarik untuk disimak karena keduanya sama-sama dikenal memiliki pertahanan solid dan kemampuan membaca permainan lawan. Djokovic harus mempertahankan kualitas servisnya seperti pada set kedua dan ketiga melawan Zverev jika ingin tetap mengontrol jalannya pertandingan. Sebaliknya, Medvedev punya peluang besar untuk menghentikan laju pemain yang belum pernah kalah di turnamen ini.

Pujian Pengamat dan Sorotan dari Japan Open

Mantan petenis nomor satu Inggris, Annabel Croft, menyebut laga Djokovic melawan Zverev sebagai pertandingan yang luar biasa saat menjadi komentator di Sky Sports Tennis. Menurutnya, kualitas tenis yang ditampilkan kedua pemain sangat tinggi, dan ia mempertanyakan alasan orang masih meragukan Djokovic meski usianya sudah 39 tahun.

Croft menilai pertandingan itu semakin memanas seiring berjalannya waktu, dengan Djokovic melakukan sejumlah perubahan taktik. Ia mengamati bahwa setelah reli-reli panjang, kaki Djokovic tampak lelah, namun pemain Serbia itu tetap mampu bangkit. Djokovic menyelipkan drop shot serta pola servis dan voli di awal set kedua untuk mengubah ritme permainan.

“Djokovic selalu punya jawabannya. Pertandingan berjalan sangat ketat hingga akhir, tetapi penyelesaiannya luar biasa dan menjadi suguhan bagi para penonton di Beijing,” ujar Croft.

Di turnamen lain, Japan Open, unggulan teratas Carlos Alcaraz hanya membutuhkan 83 menit di lapangan untuk memastikan tempat di semifinal. Kepastian itu didapat setelah Denis Shapovalov memutuskan berhenti bertanding dalam posisi tertinggal 7-6 (7-3), 2-1. Hasil tersebut menambah gambaran bahwa persaingan di papan atas tenis putra tetap ketat menjelang rangkaian turnamen berikutnya.

Bagi pembaca yang ingin mengikuti jalannya pertandingan, WTA/ATP China Open dan ATP 1000 Shanghai Masters dapat disaksikan secara langsung melalui Sky Sports, termasuk lewat aplikasi Sky Sports dan layanan streaming tanpa kontrak di NOW.

Kesimpulan

Kemenangan Novak Djokovic atas Alexander Zverev mengantarkannya ke semifinal China Open dengan rekor 32-0 di Beijing, sekaligus melampaui catatan awal terbaik Rafael Nadal di satu turnamen era Open. Hasil ini membuka jalan menuju gelar ketujuh di turnamen tersebut dan trofi pertama sepanjang tahun, sembari menunda ambisi Zverev menuju peringkat satu dunia.

Tantangan berikutnya sudah menanti dalam diri Daniil Medvedev, dan laga itu akan menguji seberapa jauh Djokovic masih mampu bersaing di level teratas. Jika ia kembali menemukan ritme seperti saat mengalahkan Zverev, rekor sempurnanya di Beijing berpeluang terus bertahan.