Penyerang Sheffield Wednesday, Jamal Lowe, mengungkap bahwa istrinya menerima pesan bernada rasial yang ditujukan kepada dirinya melalui media sosial. Pesan tersebut dikirim berulang kali pada foto-foto Instagram pasangannya, tak lama setelah pemain berusia 32 tahun itu mendapat kartu merah dalam kekalahan 2-0 melawan Notts County pada laga Selasa.
Kasus ini menjadi pukulan tersendiri bagi sepak bola Inggris karena bukan insiden pertama yang menimpa skuad Sheffield Wednesday sepanjang tahun ini. Klub yang berlaga di League One itu langsung merilis pernyataan resmi, sementara otoritas kepolisian sepak bola Inggris memastikan tengah menyelidiki kasus pelecehan rasial Jamal Lowe tersebut.
Pesan Rasial Dikirim ke Akun Instagram Istri Lowe
Menurut pengakuan Lowe, pesan berisi hinaan rasial itu masuk ke kolom komentar foto-foto Instagram istrinya, bukan ke akun pribadinya. Artinya, sasaran pelecehan tidak hanya pemain, tetapi juga anggota keluarga yang sama sekali tidak terlibat dalam pertandingan. Pola ini menunjukkan bahwa pelaku sengaja mencari jalur yang paling menyakitkan, yakni menyerang orang terdekat korban.
Konteks kejadiannya adalah kekalahan Sheffield Wednesday di kandang Notts County. Lowe, penyerang timnas Jamaika itu, diusir wasit pada laga tersebut sehingga performanya menjadi sorotan. Namun, bagi pemain maupun klub, buruknya hasil pertandingan sama sekali tidak bisa dijadikan pembenaran atas serangan bernuansa rasial.
Sheffield Wednesday merilis pernyataan resmi pada Rabu yang menegaskan sikap tegas mereka. “Rasisme adalah hal yang keji. Ia tidak punya tempat di sepak bola maupun di masyarakat, dan kami mengecam pelecehan ini dengan kata-kata sekeras mungkin,” demikian bunyi pernyataan klub seperti dikutip dari sumber.
Respons Lowe: Satu Hasil Buruk Tak Sepadan dengan Hinaan Rasial
Lowe sendiri menyampaikan kekecewaannya lewat akun Instagram pribadinya. Ia menegaskan bahwa penampilan buruk di lapangan tidak pernah menjadi alasan sah untuk merendahkan seseorang berdasarkan ras. “Performanya buruk atau tidak, melecehkan seorang pemain dari tim yang ‘kalian dukung’ secara rasial itu jauh dari nalar,” tulisnya.
Dalam unggahan yang sama, ayah sekaligus pesepakbola profesional itu meminta para orang tua mengambil peran aktif. Ia mendorong mereka mendidik anak-anak sejak dini dan berani menegur anggota keluarga yang menunjukkan perilaku menyimpang semacam ini, bukan membiarkannya tumbuh tanpa koreksi.
Pemain berusia 32 tahun itu juga menyoroti betapa cepatnya situasi berubah dari kritik sepak bola menjadi hinaan rasial. “Membayangkan kami hanya berjarak satu hasil buruk dari disebut monyet itu benar-benar gila,” ujarnya. Ia menutup dengan seruan singkat bahwa persoalan ini terjadi terlalu sering dan semua pihak harus berbuat lebih baik.
Polisi Sepak Bola Inggris Turun Tangan
Unit Kepolisian Sepak Bola Inggris (UK Policing Football Unit/UKFPU) mengonfirmasi kepada BBC Sport bahwa kasus ini sedang mereka selidiki. Lembaga tersebut menegaskan tidak ada ruang sedikit pun bagi pelecehan rasial, baik di dunia maya maupun di dunia nyata. Mereka juga mengingatkan bahwa bersembunyi di balik layar papan ketik bukanlah perlindungan hukum.
UKFPU menyatakan bakal mengerahkan tim perwira khusus untuk mengidentifikasi pihak yang bertanggung jawab. Tujuannya jelas: membawa pelaku ke jalur hukum agar ada efek jera. Pernyataan ini penting karena pelecehan berbasis akun anonim sering dianggap tidak akan berujung apa-apa oleh pelakunya.
Dari sisi klub, Sheffield Wednesday menambahkan bahwa kejadian ini bukan yang pertama menimpa pemain, staf, maupun keluarga merekamusim ini. Klub menyebut penargetan berulang terhadap individu dan orang-orang terdekatnya sebagai hal yang sama sekali tidak bisa diterima.
Rekam Jejak Insiden Rasial di Sheffield Wednesday
Kasus yang menimpa Lowe tercatat sebagai insiden kedua pelecehan rasial terhadap pemain Sheffield Wednesday sepanjang tahun ini. Pada April lalu, seorang pemain Owls yang identitasnya tidak diungkap menjadi sasaran pesan rasial yang disebut klub sebagai “memalukan dan sama sekali tidak dapat diterima” setelah laga imbang 1-1 melawan Leicester.
Rekam jejak ini sebenarnya sudah terbentuk lebih lama. Pada 2024, klub didenda sebesar 12.500 poundsterling dan seorang pendukung Owls dilarang masuk stadion selama lima tahun. Hukuman itu dijatuhkan setelah Kasey Palmer, pemain Coventry, mendapat gestur rasial dalam sebuah pertandingan Championship.
Deretan peristiwa tersebut memperlihatkan bahwa sanksi klub dan larangan individu belum cukup untuk menghentikan perilaku serupa. Pengulangan kasus dalam rentang waktu berdekatan menandakan persoalan ini bersifat struktural, bukan sekadar ulah segelintir orang yang kebetulan salah langkah.
Kampanye Anti-Rasisme dan Arti Penting Penindakan Nyata
Yang membuat kasus ini terasa ironis adalah waktunya. Klub menyebut bahwa hanya sepekan sebelumnya mereka berdiri bersama EFL mendukung kampanye Together Against Racism. Insiden seperti ini, menurut klub, justru menegaskan mengapa aksi kolektif dan konsekuensi yang bermakna tetap begitu penting.
Bagi para pemain, dampaknya melampaui urusan olahraga. Ketika keluarga ikut menjadi sasaran, tekanan psikologis yang muncul bisa mengganggu konsentrasi, kenyamanan bermain, hingga keputusan pemain untuk tetap aktif di media sosial. Klub dan otoritas liga pun dituntut tidak berhenti pada pernyataan simpati, tetapi memastikan proses hukum berjalan sampai tuntas.
Kasus ini juga menjadi cermin bagi ekosistem media sosial secara keseluruhan. Selama akun anonim masih bisa dengan mudah menyebar hinaan rasial tanpa hambatan berarti, insiden serupa berpotensi terus berulang di klub mana pun. Penyelidikan UKFPU akan menjadi ujian apakah ancaman hukuman benar-benar bisa diwujudkan, bukan hanya jadi peringatan di atas kertas.
Penutup
Pelecehan rasial terhadap Jamal Lowe menambah daftar panjang persoalan diskriminasi yang membayangi sepak bola Inggris, khususnya di Sheffield Wednesday. Klub sudah bersikap tegas, pemain sudah angkat bicara, dan kepolisian telah membuka penyelidikan. Namun, rangkaian insiden yang berulang dalam satu tahun menunjukkan bahwa pernyataan saja tidak cukup.
Yang paling dinantikan kini adalah hasil penyelidikan terhadap pelaku, sekaligus konsistensi semua pihak dalam menindak pelecehan rasial di dunia maya. Tanpa konsekuensi nyata, pesan Lowe bahwa “ini terjadi terlalu sering” akan terus bergema tanpa perubahan berarti.
