Performa Celtic di Eropa kembali menjadi sorotan setelah mereka menelan kekalahan dari Celta Vigo di Europa League. Kekalahan itu memperpanjang tren buruk dan menempatkan Celtic di posisi 35 dari 36 tim, dengan hanya satu klub Armenia yang membuat mereka tidak berada di dasar klasemen. Bagi klub sebesar Celtic, posisi itu bukan sekadar hasil buruk, melainkan tanda bahwa jarak mereka dengan level Eropa semakin melebar.
Kekalahan ini terasa penting karena terjadi hanya beberapa hari setelah Celtic menghancurkan Hearts 7-1 di liga domestik. Kontras itu memperlihatkan masalah lama: performa di dalam negeri tidak lagi bisa dipakai sebagai ukuran kemampuan Celtic di Eropa. Uraian berikut mengulas runtuhnya Celtic pada laga melawan Celta Vigo, kritik terhadap manajer dan dewan klub, serta penurunan mereka dari malam-malam besar Liga Champions menjadi tim yang kini kesulitan bersaing di kompetisi Eropa lapis kedua.
Performa Celtic di Eropa Kembali Ambruk di 30 Menit Terakhir
Saat Mika Baur mencetak gol di awal babak kedua melawan Celta Vigo, harapan Celtic sempat membubung. Tim tampil lebih intens, punya momentum, dan diperkuat sundulan Liam Scales yang membentur mistar atas. Celta Vigo, wakil La Liga, berada di bawah tekanan dan sempat tampak hanya menguasai bola tanpa menusuk.
Celta mencatat lebih dari 350 umpan di babak pertama, tetapi hanya satu tembakan tepat sasaran. Bola berputar indah dan teknis, namun tidak menghasilkan penetrasi berarti. Dalam momen optimistis itu, mudah menyimpulkan bahwa Celta akan habis oleh permainan sendiri.
Kenyataannya, Celtic justru kehilangan kendali pada 30 menit terakhir, terutama antara menit ke-68 dan ke-71. Dari posisi yang berpotensi mendulang tiga poin, mereka berakhir tanpa poin. Celtic berhenti bermain dan berhenti percaya setelah menghadapi tekanan; mereka jatuh dan tidak mampu bangkit lagi. Jauh sebelum laga usai, Celtic sudah habis secara psikologis. Hal seperti ini bukan hal baru, karena yang benar-benar baru justru adalah melihat mereka menambah keunggulan saat sudah unggul 1-0. Di Eropa, kekuatan seperti itu sudah menjadi seni yang langka di tim ini. Kekecewaan pada keputusan wasit menjelang gol penyama, terkait pelanggaran terhadap Camilo Duran yang tidak diberikan, tidak bisa menutupi kesalahan Celtic sesudahnya. Mereka gagal mengantisipasi bola mati, gagal mengawal pencetak gol, dan membuat beberapa kesalahan beruntun saat kebobolan gol kedua. Berapa banyak peluang yang dibutuhkan satu tim untuk menyapu bola ke area aman?
Tiga Kekalahan Beruntun dan Posisi di Dasar Klasemen
Kekalahan dari Celta Vigo adalah kekalahan ketiga beruntun Celtic di Eropa. Mereka berada di peringkat 35 dari 36 tim di tabel Europa League, dan hanya satu tim dari Armenia yang membuat mereka tidak menempati dasar. Dengan tiga gol dicetak dan sembilan gol kebobolan, catatan itu menunjukkan masalah di kedua sisi lapangan. Celtic tidak hanya sulit mencetak gol, tetapi juga rapuh saat bertahan.
Di liga domestik, Celtic memang baru membantai Hearts 7-1. Namun, hasil itu tidak menghapus kekalahan dari Rangers serta kegagalan melawan LASK, Ferencvaros, dan Benfica. Setelah kemenangan besar atas Hearts, sebagian pendukung Celtic menyerang komentator yang mengkritik O’Neill, para pemain, dan dewan klub, seolah hasil itu membuat semua persoalan hilang. Chris Sutton menyebut Celtic sebagai flat-track bullies, istilah untuk tim yang jago di jalur domestik tetapi lemah ketika menghadapi lawan Eropa. Tidak banyak pendukung Celtic yang mungkin membantah gambaran itu.
Manajer Martin O’Neill mengatakan masih banyak poin yang bisa diperebutkan, dan secara matematis itu benar. Namun, pernyataan itu keluar dari posisi yang lemah, hampir seperti putus asa. Bahkan pada masa terbaik dalam beberapa dekade terakhir, Celtic sangat sulit menang di kandang lawan di Eropa; sekarang, menang di kandang pun menjadi terlalu berat. Jadi, cukup banyak poin memang masih tersedia untuk keluar dari dasar dan masuk play-off, tetapi dalam kondisi sekarang itu lebih terasa seperti renungan filosofis daripada kenyataan yang bisa dicapai.
Kritik untuk O’Neill, Pemain, dan Dewan Klub
Dalam situasi sekarang, standar Celtic sedang merosot, dan itu tanggung jawab semua pihak. Penurunan ini bukan hanya tanggung jawab O’Neill dan para pemain, meski keduanya berada di garis depan kritik. O’Neill layak mendapat simpati karena ia harus menjawab pertanyaan soal hal yang menjadi tanggung jawabnya sekaligus soal hal yang berada di luar kendalinya, termasuk hubungan klub dengan sebagian besar pendukungnya. Isu itu menjadi semacam sirkus yang terus berulang dan membebani sang manajer.
Namun, bagian terbesar kesalahan menurut artikel ini ada pada dewan klub. Dewan dianggap nyaman membiarkan O’Neill, dan Shaun Maloney saat O’Neill tidak ada, berbicara tentang jarak antara fans dan klub, seperti yang terjadi pada Rabu. Ketika isu itu muncul dalam konferensi pers, tidak ada CEO, ketua, pemegang saham utama, atau anak pemegang saham utama yang hadir. Yang tampil hanya manajer atau asisten yang jelas punya banyak hal lain untuk dipikirkan.
O’Neill mengatakan ia “tidak bisa meminta lebih” dari para pemainnya. Menurut artikel ini, ia bisa dan harus meminta lebih. Tuntutan yang lebih besar juga harus dialamatkan kepada dewan klub. Mendatangkan pemain baru dan manajer baru bisa dilakukan cepat jika mereka mau; soal apakah itu pemain dan manajer yang tepat adalah perkara lain. Yang jauh lebih sulit adalah mengubah dewan dan cara berpikir mereka.
Dari Malam Besar Liga Champions ke Europa League
Setelah liputan televisi berakhir, ada program highlights tentang malam-malam besar Celtic Park di Liga Champions. Celtic pernah mengalahkan Manchester United yang diperkuat Paul Scholes, Ryan Giggs, Cristiano Ronaldo, dan Wayne Rooney. Mereka juga pernah mengalahkan AC Milan dengan Alessandro Nesta, Andrea Pirlo, Clarence Seedorf, dan Kaka, serta Barcelona dengan Jordi Alba, Xavi, Iniesta, dan Lionel Messi. Stadion berguncang, penuh, memekakkan telinga, dan tak terlupakan.
Sekarang, gambaran itu terasa jauh. Ada kursi kosong dan penonton yang pulang lebih awal. Laga melawan tim peringkat delapan Spanyol di kompetisi Eropa lapis kedua berakhir dengan kekalahan dan apatia. Celtic telah jatuh, dan penurunan itu tidak terjadi dalam semalam.
Sebagai pembanding yang lebih dekat, pada Februari tahun lalu Bayern Munich menghadapi Celtic. Menit ke-93 leg kedua di Jerman, agregat 2-2. Bayern memulai dengan empat depan Michael Olise, Jamal Musiala, Serge Gnabry, dan Harry Kane; Thomas Muller masuk menggantikan Musiala, Leroy Sane menggantikan Gnabry, dan Kingsley Coman menggantikan Kane. Bayern baru bisa menyingkirkan Celtic pada menit keempat tambahan waktu. Dari titik itu ke kondisi sekarang, Celtic mengalami penurunan ke mediokritas dan irelevansi Eropa.
Apakah Celtic Punya Visi untuk Bangkit?
Pertanyaan tentang visi kini menjadi krusial. Dari Liga Champions ke Europa League, lalu berikutnya Conference League, dan setelah itu apa? Cerita semacam ini melelahkan bagi pendukung Celtic karena hampir berulang dalam lingkaran yang sama. Semua orang yang memegang kekuasaan di klub tidak seharusnya bisa melihat tabel 36 tim itu tanpa rasa malu. Jika mereka tidak merasa malu, mereka mungkin tidak cocok dengan jabatannya.
Pertanyaan lama yang masih harus diajukan adalah untuk apa Celtic berdiri: menjadi flat-track bully atau sesuatu yang lebih ambisius dan lebih sesuai dengan cerita Eropa yang sering mereka bicarakan? Tidak ada keraguan bahwa orang-orang di klub ingin Celtic sukses, dan mereka mungkin akan meraih lebih banyak gelar domestik. Karena Lisbon Lions, Celtic akan selalu menjadi cerita terbesar dalam sepak bola Skotlandia, dan kemungkinan tidak ada yang bisa melampauinya. Namun, ada cerita-cerita lain pada masa kini yang melelahkan bagi pendukung Celtic karena hampir berulang. Pertanyaan besarnya adalah apakah mereka punya visi untuk membuat keadaan lebih baik; banyak pengamat klub mungkin menganggap pertanyaan itu retoris.
Kekalahan dari Celta Vigo merangkum masalah Celtic saat ini: mereka bisa tampil dominan sebentar, tetapi runtuh ketika menghadapi tekanan. Catatan tiga kekalahan beruntun, tiga gol dicetak, dan sembilan gol kebobolan di Eropa memperlihatkan bahwa masalahnya bukan sekadar satu laga. Posisi 35 dari 36 tim adalah peringatan keras bagi klub yang biasa berbicara tentang tradisi Eropa.
Celtic mungkin masih akan meraih kesuksesan domestik, tetapi itu tidak lagi cukup untuk menutupi penurunan di Eropa. Yang dibutuhkan bukan hanya pemain atau manajer baru, melainkan perubahan cara berpikir, terutama di dewan klub. Tanpa visi yang jelas, pertanyaan tentang arah Celtic akan terus kembali, dan performa Celtic di Eropa akan tetap menjadi pengingat akan jarak antara ambisi dan kenyataan.
