Amorim Sebut AC Milan Masih Jauh dari Potensi Terbaik

Ruben Amorim menegaskan AC Milan masih jauh dari potensi terbaik mereka, meski timnya belum sekalipun menelan kekalahan di Serie A musim ini. Pelatih asal Portugal itu menilai penampilan Rossoneri baru menyentuh sebagian kecil dari apa yang seharusnya mampu mereka capai. Ia pun mengingatkan bahwa hasil positif di lima pertandingan pembuka tidak boleh membuat siapa pun di klub cepat merasa puas.

Pernyataan itu muncul setelah Milan menutup lima laga awal Serie A 2026-27 dengan tiga kemenangan dan dua hasil imbang. Raihan tersebut menempatkan mereka di peringkat kelima klasemen sementara, terpaut dua poin dari Roma yang memimpin. Situasi ini membuat Amorim melihat masih ada jarak cukup lebar antara performa yang ditampilkan dan kualitas yang ia yakini dimiliki skuadnya.

Rekor Tak Terkalahkan Amorim di Serie A

Milan membuka musim dengan catatan yang, di atas kertas, tergolong mulus. Tiga kemenangan dan dua hasil imbang sudah cukup mengantar mereka bersaing di papan atas, kendati belum mampu menembus posisi Roma di puncak. Amorim sendiri menekankan bahwa angka-angka itu belum menggambarkan permainan timnya secara utuh.

Yang menarik, torehan tersebut membawa Amorim masuk ke dalam catatan sejarah Milan. Ia menjadi manajer asing ketiga dalam sejarah klub yang tidak terkalahkan pada lima pertandingan pertamanya di Serie A, menyusul dua nama yang lebih dulu melakukannya pada 1963-64:

  • Luis Carniglia — 3 kemenangan, 2 imbang (1963-64)
  • Nils Liedholm — 4 kemenangan, 1 imbang (1963-64)

Secara keseluruhan, Amorim juga menjadi pelatih Rossoneri pertama yang menorehkan rekor semacam itu sejak Massimo Giacomini pada 1979-80 dengan catatan 2 kemenangan dan 3 imbang. Artinya, pencapaian ini bukan hal yang biasa terjadi di Milan, bahkan di antara pelatih-pelatih yang lebih dulu menangani klub. Meski begitu, Amorim sama sekali tidak menjadikan rekor pribadi itu sebagai bahan perayaan.

Kekalahan dari Benfica Jadi Noda di Liga Europa

Kontras tajam muncul ketika Milan menjalani laga pembuka Liga Europa. Bermain di kandang sendiri, mereka harus menyerah 2-0 dari Benfica dan memulai kompetisi Eropa dengan kekalahan. Hasil itu menjadi pengingat bahwa catatan tak terkalahkan di liga domestik tidak otomatis berarti tim sudah siap menghadapi tekanan di level yang berbeda.

Amorim mengakui skuadnya masih membutuhkan banyak perbaikan ketika kembali dari jeda internasional. Ia menyebut timnya berusaha mendominasi pertandingan secara konsisten, tetapi belum mampu melakukannya sepanjang 90 menit penuh. “Kami berusaha mendominasi pertandingan secara konsisten; kami bermain bagus di momen-momen tertentu, tapi masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan,” ujarnya kepada Sky Sport Italia.

Kekalahan di kandang sendiri jelas terasa menyakitkan, terutama karena Milan sedang berupaya membangun kepercayaan diri di awal musim. Di sisi lain, hasil itu justru memperkuat argumen Amorim bahwa perjalanan timnya masih panjang. Ia tidak ingin performa yang belum stabil tertutupi oleh statistik semata.

Amorim Menolak Label “Milan-nya Amorim”

Salah satu hal yang ditegaskan Amorim adalah soal identitas klub. Ia mengaku tidak nyaman ketika orang menyebut tim ini sebagai “Milan milik Amorim”. Menurutnya, Milan adalah Milan — sebuah klub dengan sejarah dan identitas yang jauh lebih besar dari nama siapa pun yang kebetulan sedang menanganinya.

“Saya tidak suka mendengar orang menyebut Milan ini sebagai Milan-nya Amorim. Milan adalah Milan. Klub ini punya cerita dan identitas yang melampaui nama seorang pelatih. Saya ingin melihat tim dengan identitas yang bisa menang bahkan ketika segala sesuatunya tidak berjalan sempurna,” kata Amorim. Pernyataan itu menunjukkan bahwa ia ingin membangun pondasi permainan, bukan sekadar menempelkan gaya yang bergantung pada sosoknya.

Bagi Milan, sikap tersebut memiliki makna penting karena klub ini memang memiliki tradisi panjang. Pelatih datang dan pergi, tetapi standar yang dituntut tidak pernah berubah. Dengan kata lain, Amorim ingin meninggalkan warisan berupa cara bermain yang bertahan lama, bukan sekadar tren sesaat yang hilang bersama kepergiannya.

Waktu dan Kontinuitas Jadi Kunci

Dalam wawancaranya, Amorim menegaskan bahwa waktu akan menentukan segalanya. “Kami masih jauh dari potensi kami, tapi kami butuh waktu dan kontinuitas. Kami punya banyak pertandingan; kami harus menang dan berkembang secara bersamaan, itu tidak mudah,” tuturnya.

Ia juga tidak berusaha menyembunyikan kekurangan timnya. “Banyak hal masih kurang, saya bisa mengatakannya tanpa masalah. Saya pikir kami harus berkembang sebagai tim untuk menciptakan lebih banyak peluang,” ujarnya. Kalimat ini menunjuk langsung pada persoalan produktivitas, yakni kemampuan Milan mengubah dominasi menjadi cukup peluang dan gol.

Kombinasi antara tuntutan menang dan kebutuhan berkembang memang tidak selalu mudah di klub sebesar Milan. Tekanan untuk segera meraih hasil bisa membuat proses pembentukan pola permainan berjalan lambat, sementara sorotan dari luar terus mengalir. Karena itu, tersedianya waktu dan kesabaran menjadi faktor penentu bagi Amorim beserta skuadnya.

Sassuolo dan Salzburg Sudah Menanti

Setelah jeda internasional berakhir, Milan langsung menghadapi jadwal yang padat. Sassuolo menjadi lawan pertama mereka di Serie A pasca-jeda, sebelum Salzburg menanti di Liga Europa. Dua pertandingan itu akan menjadi ujian nyata bagi upaya Amorim memperbaiki permainan timnya.

Laga melawan Sassuolo penting untuk menjaga posisi Milan agar tidak semakin tertinggal dari Roma di puncak klasemen. Sementara itu, pertandingan kontra Salzburg menjadi kesempatan untuk bangkit setelah kekalahan dari Benfica. Keduanya menuntut Milan tampil lebih matang, bukan sekadar mengumpulkan hasil.

Bagi Amorim, dua laga tersebut juga menjadi cara mengukur sejauh mana pesannya tersampaikan ke dalam skuad selama masa jeda. Perbaikan tidak bisa hanya berupa janji, tetapi harus terlihat dalam cara tim menciptakan peluang dan mengendalikan jalannya pertandingan.

Singkatnya, start tak terkalahkan di Serie A tidak lantas membuat Amorim merasa puas. Rekor bersejarah sebagai manajer asing ketiga Milan yang melewati lima laga awal tanpa kekalahan tetap diiringi catatan pahit di Liga Europa serta pengakuan bahwa timnya belum tampil di level terbaik. Posisi kelima dengan selisih dua poin dari Roma menggambarkan bahwa Milan sudah berada di jalur yang cukup baik, tetapi belum benar-benar matang.

Yang menanti Amorim adalah pekerjaan rumah bertubi-tubi: memperbaiki konsistensi, menciptakan lebih banyak peluang, dan membangun identitas yang bertahan lama. Laga melawan Sassuolo dan Salzburg bisa menjadi penanda apakah proses tersebut berjalan sesuai rencana. Bagaimana pun, Amorim sendiri sudah menegaskan bahwa jalan menuju potensi terbaik Milan masih panjang.