Paul Green Chelsea: 19 Trofi dan Tantangan Baru di Bay FC

Paul Green Chelsea adalah kisah tentang seorang pria yang meninggalkan klub setelah 13 tahun dengan 19 trofi mayor, namun baru benar-benar menyadari besarnya pencapaian itu ketika ia sudah tidak lagi berada di sana. Sebagian besar medali yang ia kumpulkan justru tersimpan di dalam kotak di bawah tempat tidur, baru kemudian dibingkai setelah ia menyelesaikan masa baktinya di klub London tersebut.

Green dikenal sebagai arsitek kebangkitan sepak bola wanita Chelsea bersama mantan manajer Emma Hayes. Ia hengkang secara mendadak pada Februari, di tengah laporan adanya gejolak di jajaran internal klub, lalu menghabiskan sekitar tujuh bulan di luar dunia sepak bola sebelum diumumkan sebagai chief football officer klub Amerika Serikat, Bay FC, pada September. Perpindahan ini menandai babak baru bagi salah satu figur paling berpengaruh di balik dominasi Chelsea di Women’s Super League (WSL).

13 Tahun, 19 Trofi, dan Medali yang Tersimpan di Bawah Tempat Tidur

Selama lebih dari satu dekade mengabdi, Green dipercaya memimpin departemen sepak bola wanita Chelsea dan membangun fondasi yang membuat klub itu berubah dari penantang menjadi penguasa. Bersama Hayes, ia merancang kebijakan rekrutmen, pembinaan, hingga infrastruktur tim yang membuat The Blues sulit digeser dari puncak. Hasilnya, 19 trofi mayor masuk ke lemari piala klub.

Ironi yang ia ceritakan sendiri ke BBC Sport: kesuksesan itu begitu deras datang sehingga ia tidak sempat menikmatinya. Medali-medali itu hanya “dilempar” ke dalam kotak dan disimpan di bawah tempat tidur. Baru ketika ia keluar dari Chelsea, Green punya waktu untuk membingkai dan merapikan semuanya sebagai kenang-kenangan.

“Itu waktu yang luar biasa. Banyak potensi yang dijual Emma Hayes kepada saya dan semua itu terwujud,” ujar Green. Menurutnya, apa yang dicapai para pemainnya akan sangat sulit ditandingi tim mana pun, bahkan untuk sekadar direplikasi.

Warisan Paul Green Chelsea: Dominasi WSL dan Kemitraan dengan Emma Hayes

Di bawah kepemimpinannya, Chelsea meraih enam gelar WSL secara beruntun. Gelar terakhir datang pada 2025 di bawah manajer saat ini, Sonia Bompastor, yang melanjutkan tongkat estafet dari Hayes. Rangkaian itu menjadikan Chelsea kekuatan paling dominan di kompetisi domestik Inggris.

Di level Eropa, Chelsea juga menembus final Women’s Champions League pada 2021 — bukti bahwa proyek yang dibangun Green dan Hayes tidak hanya kuat di dalam negeri. Konsistensi semacam ini jarang terjadi di sepak bola wanita, terutama karena lanskap kompetisi terus berubah dengan masuknya investasi baru dari klub-klub besar.

Bagi Green, kerja sama dengan Hayes adalah inti dari semuanya. Ia menyebut masa itu sebagai salah satu periode terbaik dalam hidupnya, dan mengakui bahwa apresiasi terhadap kesuksesan biasanya baru muncul setelah seseorang meninggalkan lingkungan yang membentuknya.

Kepergian Mendadak dan Reaksi Dunia Sepak Bola Wanita

Kabar kepergian Green pada Februari sempat mengejutkan banyak pihak, apalagi karena muncul laporan soal ketegangan di tingkat pengurus klub. Green sendiri memilih merespons dengan tenang. Menurutnya, klub sepak bola selalu bergerak maju dan banyak orang di Chelsea telah berganti dalam beberapa tahun terakhir.

“Pada akhirnya mereka memilih arah yang berbeda, tapi saya sangat bangga dengan pekerjaan saya di sana dan saya meninggalkan klub dalam posisi yang jauh lebih baik daripada saat saya pertama masuk,” kata Green kepada BBC Sport. Pernyataan itu menegaskan bahwa ia tidak ingin konflik menjadi bagian dari narasi kepergiannya.

Reaksi publik ternyata di luar dugaannya. Green mengaku kewalahan dengan banyaknya pesan yang masuk, terutama dari orang-orang di lingkungan sepak bola wanita yang mengapresiasi kerja dan kesuksesan Chelsea selama ini. Ia butuh waktu lama untuk membalas semuanya satu per satu, sambil menghabiskan waktu bersama keluarga.

Babak Baru di Bay FC: Visi, Bursa Transfer, dan Infrastruktur

Setelah tujuh bulan absen, Green bergabung dengan Bay FC, klub berbasis San Francisco yang proyeknya dipimpin mantan direktur FA, Kay Cossington, dan berada di bawah naungan kepemilikan multi-klub Bay Collective. Ia mengaku langsung tertarik karena visi yang ditawarkan kepadanya terasa terlalu bagus untuk ditolak.

Green melihat kemiripan antara Bay FC dan masa-masa awal Chelsea. Ia berambisi membangun sesuatu yang istimewa dari fondasi yang masih sederhana, dengan memanfaatkan jaringan dan koneksi yang ia bangun selama 20 tahun di industri ini. Modal utamanya adalah pengetahuan pasar transfer untuk mendatangkan pemain berkualitas dunia.

Pekerjaan rumahnya tidak ringan. Bay FC berada di posisi ketiga dari bawah klasemen NWSL dengan tiga pertandingan tersisa, dan Green mengakui timnya belum tampil sesuai harapan sehingga skuad perlu diperkuat secepat mungkin. Klub juga akan pindah ke fasilitas latihan baru tahun depan, sementara Green menekankan pentingnya infrastruktur di luar lapangan, mulai dari staf hingga sarana pendukung.

Soal Talenta Homegrown, Green Usul Program Pinjaman hingga Tim B

Selama di Chelsea, Green mengawal perkembangan sejumlah pemain Inggris, termasuk Aggie Beever-Jones dan Lexi Potter. Potter baru menjalani debut bersama timnas Inggris dalam kemenangan 5-0 atas Yunani pekan lalu, sedangkan Beever-Jones merupakan bagian dari skuad yang menjuarai Euro 2025. Namun masa depan talenta muda Inggris justru jadi sorotan karena menit bermain pemain homegrown makin menipis.

Solusi yang ia tawarkan bertumpu pada pengalaman di Chelsea: menghadirkan program pinjaman yang baik dan mencari klub mitra yang tepat untuk mengembangkan pemain. Jika sumber daya itu tidak tersedia, ia tidak menutup kemungkinan pemain muda harus mencari pengalaman di luar negeri.

Green juga menyoroti usulan pembentukan tim “B” seperti yang diterapkan di Jerman dan Spanyol. Menurutnya, memasukkan tim semacam itu di level tiga piramida kompetisi akan membantu, karena akademi dinilai tidak lagi sekuat dulu — meski ia sadar gagasan ini kontroversial. Direktur sepak bola wanita FA, Sue Day, mengakui area ini perlu dibenahi dan menegaskan bahwa FA, klub, serta liga harus bekerja bersama, sementara manajer timnas Inggris Sarina Wiegman juga menyatakan kekhawatirannya.

Perjalanan Green menunjukkan bahwa kesuksesan besar sering kali dibangun tanpa banyak sorotan, lewat keputusan-keputusan kecil di balik layar yang baru terasa dampaknya bertahun-tahun kemudian. Medali di bawah tempat tidur itu adalah simbolnya: hasil kerja panjang yang baru dihargai ketika sang perancang sudah melangkah pergi.

Kini tantangannya berbeda. Di Bay FC, Green tidak mewarisi tim yang sudah dominan, melainkan membangun dari bawah dengan sumber daya yang masih berkembang. Jika ia mampu mengulang sebagian kecil dari apa yang ia lakukan di Chelsea, proyek di San Francisco itu layak untuk diikuti.