Fabian Hurzeler: Dari Diboo ke Puncak Bersama Brighton

Fabian Hurzeler kini menjelma menjadi salah satu manajer muda paling panas di Eropa bersama Brighton, hanya delapan bulan setelah ia diteriaki oleh pendukung klubnya sendiri. Ketika Brighton kalah 1-0 dari rival sengitnya, Crystal Palace, pada Februari lalu di Amex Stadium, sebagian suporter melontarkan cemoohan dan menyanyikan nyanyian bernada bahwa ia akan segera dipecal. Saat itu Brighton terpuruk di peringkat ke-14 dengan hanya satu kemenangan dari 12 pertandingan Premier League.

Delapan bulan berselang, situasinya berbalik total. Brighton kini menempati posisi ketiga klasemen setelah meraih kemenangan penting atas Arsenal yang berstatus juara bertahan dan Aston Villa, peraih gelar Liga Europa. Crystal Palace akan kembali bertandang ke Amex Stadium pada Minggu pukul 14.00 waktu setempat, dan kali ini mereka akan menghadapi tim yang sama sekali berbeda dari yang mereka kalahkan awal tahun ini.

Kebangkitan Brighton di Bawah Fabian Hurzeler

Perubahan nasib Brighton terlihat dari rapor pertandingan sang manajer. Fabian Hurzeler mencatat 11 kemenangan dari 18 laga di kompetisi liga, sebuah rentetan hasil yang mengantar The Seagulls kembali ke kompetisi Eropa. Angka tersebut terasa makin istimewa karena datang dari tim yang beberapa bulan sebelumnya dianggap kehilangan arah dan tanpa identitas permainan yang jelas.

Kepercayaan Brighton kepada pria asal Jerman itu juga tercermin dari keputusan klub memberikan kontrak jangka panjang sebelum akhir musim lalu. Ia bahkan dipercaya mengelola dana belanja sekitar £150 juta untuk mendatangkan pemain baru pada bursa transfer musim panas. Kebijakan itu kini dipandang sebagai bentuk kesabaran yang berbuah, bukan sekadar keberuntungan sesaat.

Mantan penyerang Brighton, Glenn Murray, menilai masa sulit musim lalu justru menjadi bahan pembelajaran berharga bagi Hurzeler. Menurutnya, seseorang akan lebih mengenal dirinya sendiri dan orang-orang di sekitarnya ketika sedang kalah. Murray menyebut cara Hurzeler membuat kelompok pemain yang ada sekarang tampil di level tinggi sebagai sesuatu yang luar biasa.

Dari Penjual Lukisan hingga Manajer Termuda Premier League

Jalan Hurzeler menuju kursi kepelatihan Brighton sama sekali tidak mulus. Pada 2016, setelah terlalu sering mengalami cedera selama berkarier di tim cadangan Bayern Munich, Hoffenheim, dan 1860 Munich, ia memutuskan berhenti sebagai pemain profesional dan menerima peran pemain-manajer di Pipinsried, klub divisi lima Jerman, pada usia 23 tahun. Itulah awal perjalanan kepelatihannya yang kini berujung ke Premier League.

Untuk menutupi kebutuhan hidup di Pipinsried, klub desa yang berjarak sekitar 30 mil dari Munich, pria yang jatuh cinta pada sepak bola ini bekerja untuk seorang pedagang seni dengan menjual lukisan kepada orang-orang Bavaria yang kaya. Dalam wawancara dengan The Guardian pada 2024, ia mengaku pernah dipecat dari pekerjaan tersebut karena terlalu banyak menghabiskan waktu untuk menonton pertandingan.

Pengalaman itu rupanya membentuk cara pandangnya dalam melatih. Ia membandingkan menjual lukisan dengan menangani pemain Premier League, di mana keduanya menuntut pemahaman terhadap kebutuhan dan keinginan orang di hadapan kita. Menurutnya, seorang pelatih harus memahami pribadi di balik sang pemain, mulai dari kebutuhan, nilai yang dipegang, latar belakang pendidikan, hingga masa lalunya.

Rekam jejaknya sebagai pelatih juga terbentuk dari rasa ingin tahu yang besar. Saat menangani St Pauli, klub yang ia bawa kembali ke Bundesliga setelah absen 13 tahun sebelum hijrah ke Brighton pada 2024, ia diundang ke pusat latihan Tottenham untuk mengamati sesi latihan tim asuhan Ange Postecoglou. Ia bertanya begitu banyak hingga Postecoglou harus meminta anggota staf kepelatihannya mengambil alih sesi tersebut.

Kunci Perubahan: Kembali ke Dasar Permainan

Lantas apa yang membuat Brighton berubah drastis dalam beberapa bulan terakhir? Scott McCarthy dari situs penggemar We Are Brighton menilai salah satu penyebabnya adalah keputusan Hurzeler kembali ke dasar-dasar permainan. Ia mengandalkan sejumlah pemain senior berpengalaman untuk keluar dari lubang keterpurukan, dan itu menjadi bukti sisi pragmatis seorang pelatih.

Menurut McCarthy, banyak pelatih yang terlalu terikat pada filosofinya sendiri dan menolak berubah meski hasilnya buruk. Hurzeler justru menyadari bahwa pendekatannya tidak berjalan dan bisa mengancam posisinya, lalu mencoba cara lain. Hasilnya kini terlihat sebagai tim yang lebih mencerminkan karakternya, terutama karena mereka menekan lawan dengan intensitas yang sangat tinggi.

Perjalanan Hurzeler di Brighton memang tidak lepas dari momen pahit. Selain desakan agar ia dipecat musim lalu, Brighton pernah dihancurkan Nottingham Forest dengan skor 7-0 pada musim pertamanya. Mantan bek Arsenal dan Inggris, Martin Keown, bahkan menyebutnya “masih hijau di belakang telinga” dalam tayangan Final Score BBC setelah Brighton kalah 4-2 dari Chelsea pada September 2024.

Namun tekanan itulah yang tampaknya menempa mental Hurzeler. Ia sempat dilaporkan menjadi salah satu nama yang dikaitkan dengan Manchester United, sebuah lompatan besar bagi pelatih yang dulu menangani klub kasta kelima Jerman. Kontraknya di Brighton kini berlaku hingga 2029, hasil dari kepercayaan yang diberikan klub ketika situasinya belum membaik.

Masa Depan Fabian Hurzeler dan Ketertarikan Klub Besar

Rentetan hasil positif membuat kekhawatiran baru muncul di kalangan pendukung Brighton. Setelah kemenangan di markas Sunderland akhir pekan lalu, sejumlah diskusi di program telepon pendengar membahas kemungkinan Hurzeler menjadi target utama klub besar yang mencari manajer baru. Ironisnya, beberapa bulan sebelumnya suporter yang sama sempat berteriak bahwa ia tidak tahu apa yang sedang ia lakukan.

McCarthy sendiri menilai pelatih berusia 31 tahun itu kemungkinan besar akan bertahan. Ia berargumen bahwa tawaran finansial mungkin menggoda, tetapi Hurzeler adalah sosok yang cerdas dan tidak akan mencapai posisi manajer Premier League di usia muda tanpa cara berpikir yang matang. Pertanyaannya, apakah ia ingin pindah ke klub lain yang belum tentu memberinya waktu untuk membangun skuad.

Pengalaman di Brighton, menurut McCarthy, menunjukkan bahwa Hurzeler membutuhkan sekitar dua setengah tahun untuk membangun tim sesuai keinginannya. Jika ia bertahan dan berhasil membawa Brighton lolos ke Liga Champions, namanya berpeluang tercatat dalam sejarah klub. Pilihan antara ambisi pribadi dan proyek jangka panjang inilah yang akan menjadi ujian berikutnya.

Jejak yang Tak Terlupakan di Pipinsried

Di kampung halamannya sebagai pelatih, nama Hurzeler masih sangat dihormati. Sepp Ankner, kepala keuangan Pipinsried, mengatakan kepada The Athletic pada 2024 bahwa Hurzeler sesekali masih senang berkunjung untuk memastikan semuanya berjalan baik. Setiap datang, ia menyapa semua orang dan tetap menjaga kedekatan dengan klub tempat karier kepelatihannya dimulai.

Kisah Hurzeler juga sejalan dengan tren manajer muda yang mulai mendapat tempat di sepak bola Eropa. Ia menjadi manajer permanen termuda dalam sejarah Premier League ketika ditunjuk pada Juni 2024 di usia 31 tahun. Selain itu, ia lahir di Houston, Texas, sebelum pindah ke Jerman pada usia dua tahun, sebuah latar yang menambah warna perjalanan kariernya.

Dari menjual lukisan kepada orang kaya Bavaria hingga bersaing di papan atas Inggris, perjalanan Fabian Hurzeler menunjukkan bahwa kecepatan karier tidak selalu bertumpu pada pengalaman panjang. Yang ia bawa adalah pemahaman terhadap manusia, kemauan belajar, dan keberanian mengubah pendekatan ketika hasilnya tidak berjalan sesuai rencana.

Kisah Fabian Hurzeler adalah contoh bagaimana kesabaran klub dapat mengubah cemoohan menjadi pujian dalam hitungan bulan. Brighton yang sempat terpuruk di peringkat 14 kini berada di posisi ketiga, dan pelatih yang dulu dianggap belum berpengalaman justru menjadi salah satu nama paling dicari di Eropa.

Yang menanti berikutnya adalah pertandingan melawan Crystal Palace, lawan yang memicu puncak tekanan pada Februari lalu. Apa pun hasilnya nanti, Brighton sudah membuktikan bahwa memberi waktu kepada pelatih muda bisa menjadi keputusan yang jauh lebih berharga daripada menyerah pada desakan sesaat.