Krisis Celtic semakin dalam setelah mereka menelan kekalahan berat berikutnya, kali ini 3-1 dari Ferencvaros di pentas Eropa. Hasil itu datang hanya beberapa hari setelah tim besutan Martin O’Neill dihajar di Ibrox, sehingga menambah tiga gol kebobolan lagi ke catatan yang sudah terlanjur suram. Bagi sebagian pendukung, mempertanyakan kemampuan O’Neill untuk membalikkan keadaan mungkin terasa seperti hal tabu, tetapi mempertahankan keyakinan kini jelas semakin sulit.
Tekanan terhadap Celtic bukan hanya soal satu atau dua hasil buruk. Rangers sudah menanti di Celtic Park pada laga kedua Old Firm musim ini, dan pertandingan itu bisa menjadi titik balik atau justru pukulan berikutnya. Callum McGregor, kapten dan figur sentral tim, bahkan mengakui bahwa skuadnya sedang “sedikit rusak” saat ini. Pertanyaannya sederhana namun berat: ke mana Celtic dan O’Neill melangkah dari sini?
Jalannya Pertandingan: Celtic vs Ferencvaros
Celtic sebenarnya memulai laga dengan cukup baik sebelum akhirnya kebobolan gol yang terbilang lunak. Mereka sempat bangkit dan memperlihatkan secercah kualitas untuk kembali ke permainan, tetapi kemudian jatuh lagi ke kebiasaan lama yang merusak: umpan-umpan aman, semangat minim, serta hanya sedikit api dan emosi di lapangan. Pola ini membuat mereka kehilangan kendali meski sempat menguasai pertandingan.
Gol yang masuk tepat sebelum turun minum adalah tipe gol yang biasa diberikan tim-tim lemah. Ada keraguan pada momen pertama saat memperebutkan bola lepas, kelemahan pada momen kedua ketika berusaha menghalau umpan silang, lalu diakhiri dengan kekacauan dan kebingungan di lini pertahanan. Celtic mencatatkan penguasaan bola 62,5 persen di babak pembuka, namun tetap tertinggal 2-1. Dominasi angka tanpa ketajaman jelas tidak cukup untuk memberi hasil.
Di lini tengah, masalahnya terlihat berulang. Terlalu banyak kelengahan, pertahanan yang longgar, dan umpan yang tidak akurat membuat dasar permainan pass and move tidak dikuasai dengan baik. Intensitas kurang, kerja keras kurang, dan hampir semua hal yang dibutuhkan untuk memberi diri sendiri peluang juga kurang. Ketika Celtic mencoba mengejar, usaha mereka lebih banyak berupa tembakan dari jarak jauh yang penuh harap, bukan serangan yang dibangun dengan koherensi, pressing, dan kecepatan.
Gol Daniel Arzani yang Menyakitkan
Penderitaan Celtic bertambah lewat gol mantan pemain mereka sendiri, Daniel Arzani, yang datang dan pergi tanpa jejak berarti di klub itu. Gol tersebut tercipta dari serangan balik yang membuka kelemahan Celtic dengan cara yang sangat memalukan. Arzani berdiri di ruang yang luas di sisi kiri setelah Colby Donovan terlalu maju membantu serangan dan kemudian berusaha mati-matian mengejar kembali tanpa hasil.
Arzani menunjukkan kesabaran dan ketepatan sebelum melepaskan tembakan ke pojok atas gawang. Itu penyelesaian yang mudah karena pertahanan Celtic sudah kehilangan bentuk dan organisasi. Serangan balik semacam ini memperlihatkan bahwa masalah Celtic bukan semata soal menyerang, tetapi juga soal struktur saat kehilangan bola.
Latar Belakang: Rangkaian Hasil Buruk yang Menumpuk
Kekalahan dari Ferencvaros tidak berdiri sendiri. Sebelumnya Celtic sudah menyerahkan lima gol saat menghadapi LASK, lalu menjalani pengalaman pahit di Ibrox akhir pekan. Rangkaian itu menjadikan pertandingan melawan Ferencvaros sebagai pukulan ketiga yang menegaskan bahwa gejala masalahnya lebih dalam daripada sekadar kebetulan semalam. Momen-momen tertentu dalam laga tersebut bahkan mengingatkan pada masa-masa kelam sebelumnya.
Dalam sejarah terdekat, kegagalan Celtic menghadapi Cluj dan Copenhagen pada 2019 dan 2020 tercatat sebagai luka lama. Saat itu ada Bayo dan Bolingoli di dalam skuad, sementara pada 2020 melawan Sparta Prague, nama-nama seperti Klimala, Ajeti, Duffy, dan Laxalt berada di tim. Pengalaman itu masih membekas, dan penampilan terbaru terasa sangat mirip dengan masa-masa sulit melawan Legia Warsaw, Salzburg, dan Maribor. Level energi rendah, booing dari tribun terdengar keras, dan kesan bahwa tim kehabisan jawaban begitu sulit disembunyikan.
Sebagai pembanding, Celtic dalam performa terbaiknya di era Ange Postecoglou identik dengan agresi dan kecerdikan. Tim itu bermain dinamis, berani mengambil risiko, dan percaya diri. Mereka menarik para bek lawan ke posisi yang tidak diinginkan, lalu menyerang lewat kecepatan dan keyakinan. Apa yang terlihat sekarang hanyalah tiruan yang jauh dari gambaran tersebut.
Tekanan pada O’Neill dan Para Pemain Kunci
Usai pertandingan, O’Neill berbicara soal frustrasi, kegagalan, dan kerusakan psikologis. Ia mengakui bahwa momen rendah seperti ini menghantam dengan keras dan menguji keteguhan seseorang, lalu berjanji akan membenahi tim sebelum menghadapi Rangers. Namun nada bicaranya datar dan sedikit lelah. Ia memang memaparkan sejumlah kekurangan Celtic pada malam itu, tetapi tidak berbicara dengan semangat seorang pelatih yang memegang jawaban.
Dalam banyak hal, pernyataan pascapertandingan O’Neill mencerminkan penampilan timnya sendiri: berat, basi, dan melemahkan harapan. Sepanjang kariernya, ia tercatat sebagai sosok yang mampu menyelesaikan banyak masalah, bukan hanya pada masa pertama yang penuh trofi, tetapi juga saat ia kembali ke tengah kekacauan musim lalu. Ketika itu ia memulihkan ketertiban dan kepercayaan diri, dua hal yang kini tampak hilang. Kekuatan kepribadiannya memberi Celtic perlawanan; timnya tidak selalu indah dilihat, tetapi sangat sulit dikalahkan dan tidak ada yang mampu mengalahkan mereka pada pacuan gelar. Semua itu terasa baru kemarin, namun kini terasa sangat lama.
Masalah juga menjalar ke individu-individu penting. Camilo Duran, yang bermain di posisi tengah favoritnya di depan Kasper Hogh, tercatat hanya menyentuh bola delapan kali. Padahal beberapa pekan lalu ia tampak penuh gairah dan cinta pada kehidupan barunya di Glasgow, tetapi sekarang ia seperti bayangan dirinya sendiri. Sementara itu, Hogh yang pernah mencetak dua gol ke gawang Manchester City serta gol-gol ke gawang Atletico Madrid, Inter Milan, Sporting, Porto, Jagiellonia, dan tiga ke Olympiacos saat memperkuat Bodo Glimt, kini berubah menjadi penyerang tengah yang canggung, dengan sentuhan pertama buruk dan nyaris tanpa peluang untuk diberi umpan. Ia baru mencetak gol dalam satu dari delapan pertandingannya sebagai pemain Celtic, dan O’Neill sejauh ini gagal mengeluarkan kemampuan terbaik dari pemain yang dibeli seharga 11 juta poundsterling tersebut.
McGregor, sang totem tim, juga terlihat sedikit kehilangan arah. O’Neill memiliki cukup pengetahuan untuk menghentikan kemerosotan ini, tetapi ia perlu melakukannya dengan cepat. Sampai saat ini, ia belum terlihat atau terdengar cukup meyakinkan.
Dampak Krisis Celtic bagi Persaingan Old Firm
Pertandingan melawan Rangers pada hari Minggu akan sangat menentukan arah musim ini. Laga itu digelar di Celtic Park, dan alasan itu menjadi salah satu faktor yang membuat hasilnya sulit diprediksi. Ada juga asumsi bahwa O’Neill dan timnya pasti akan memberikan semacam respons setelah nasib menyedihkan mereka di Ibrox akhir pekan lalu.
Namun para pendukung Celtic tetap punya alasan untuk khawatir. Keraguan mereka tidak lahir dari satu pertandingan, melainkan dari rangkaian hasil yang saling memperkuat. Di sisi lain, Rangers bisa jadi sedang menjilat bibir membayangkan menghadapi hewan yang terluka. Kewaspadaan terhadap perlawanan balik tetap ada, tetapi mereka juga punya peluang untuk melancarkan pukulan berikutnya. Laga hari Minggu akan memberi banyak petunjuk tentang arah hubungan antara dua raksasa Glasgow itu.
Solusi Apa yang Dibutuhkan Celtic?
O’Neill membutuhkan banyak solusi dalam beberapa hari ke depan, dan sepak bola memang kadang terasa aneh karena jawaban bisa muncul secara tak terduga. Namun saat ini, timnya jelas kekurangan berbagai hal penting sekaligus. Mereka tidak punya cukup gagasan, keyakinan, ketenangan, kekuatan fisik dan mental, kreativitas, ketajaman, maupun keberanian untuk bertarung. Daftar kekurangan itu terlalu panjang untuk diselesaikan hanya lewat satu sesi latihan.
Hal-hal mendasar perlu dibenahi lebih dulu. Struktur saat kehilangan bola harus lebih disiplin agar tidak mudah dibuka oleh serangan balik. Lini tengah perlu intensitas dan akurasi umpan yang jauh lebih baik, terutama karena penguasaan bola tinggi tidak berarti apa-apa tanpa ancaman nyata. Para pemain depan juga harus mulai mendapat pasokan yang layak, sebab Duran dan Hogh sama-sama belum menunjukkan dampak sesuai harapan.
Sejarah menunjukkan O’Neill pernah bangkit dari situasi sulit dalam karier kepelatihannya, sehingga banyak orang mungkin sudah terbiasa mengharapkan hal serupa terjadi lagi. Akan tetapi, beban perbaikan kali ini cukup besar dan waktu yang tersedia tidak longgar. Ia tidak hanya perlu mengembalikan hasil, tetapi juga mengembalikan rasa percaya pada skuad dan publiknya.
Kesimpulan
Krisis Celtic saat ini adalah gabungan dari hasil buruk, performa yang datar, dan hilangnya keyakinan di dalam tim. Kekalahan 3-1 dari Ferencvaros memperlihatkan masalah yang sama seperti sebelumnya: pertahanan longgar, lini tengah tanpa kendali, serta serangan yang tidak tajam. O’Neill pun tampil tidak meyakinkan dalam kata-katanya, sementara beberapa pemain kunci seperti Duran, Hogh, dan McGregor belum menemukan bentuk terbaiknya.
Laga melawan Rangers pada hari Minggu akan menjadi ujian sekaligus peluang bagi O’Neill dan anak-anak asuhnya. Jika mereka mampu merespons, narasi tentang kebangkitan masih bisa dibangun. Namun jika Celtic kembali kehilangan arah, krisis yang sekarang terlihat akan terasa semakin sulit dibendung, dan pertanyaan tentang arah masa depan klub pun akan semakin sulit dihindari.
