Pelatih Juventus, Luciano Spalletti, memilih tidak menghabiskan energi untuk memikirkan kritik yang mengarah kepadanya. Baginya, kemampuan menerima tekanan adalah “obat” yang membuat seseorang bisa menjalani hidup dengan sewajarnya, dan prinsip itu ia bawa menjelang laga pembuka Juventus di Europa League 2026-27 melawan NEC.
Juventus akan menjamu klub Belanda, NEC, pada Kamis, tetapi mereka melangkah ke laga tersebut dengan modal kurang menyenangkan. Bianconeri baru saja menelan kekalahan dramatis 3-2 dari Sassuolo di Serie A, dengan gol penentu di masa injury time yang dicetak Vasilije Adzic, pemain yang berstatus pinjaman dari Juventus sendiri. Hasil itu membuat Juventus baru mengumpulkan tujuh poin dari empat pertandingan pembuka di liga, sehingga sorotan terhadap Spalletti pun semakin tajam.
Sikap Spalletti Juventus dalam Menghadapi Kritik
Spalletti menegaskan bahwa dirinya sama sekali tidak menjadikan kritik sebagai pusat perhatian. Menurutnya, belajar menerima tekanan adalah semacam obat karena membantu seseorang hidup dengan benar, sebuah pelajaran yang ia yakini sudah ia dapatkan sejak lama. Ia bahkan mengenang masa kecilnya ketika harus ikut membantu keluarga sepulang sekolah karena keluarga sedang melalui periode sulit, sehingga urusan tekanan bukan hal baru baginya.
Pelatih asal Italia itu juga menekankan bahwa ia sangat peduli pada profesinya, tetapi tidak terlalu ambil pikir terhadap reaksi negatif setelah kekalahan. Alasannya sederhana: hal-hal seperti itu berada di luar kendalinya. Karena itu, ia memilih menentukan sendiri apa yang layak diberi perhatian dan apa yang sebaiknya diabaikan, termasuk sorotan tajam pascalaga melawan Sassuolo.
Pernyataan tersebut menunjukkan bagaimana Spalletti berusaha menjaga stabilitas mental timnya di tengah situasi yang tidak ideal. Alih-alih terjebak dalam polemik, ia ingin fokus pada persiapan pertandingan berikutnya. Sikap ini penting karena Juventus hanya punya waktu singkat untuk bangkit sebelum tampil di kompetisi Eropa.
Kronologi Tekanan yang Menumpuk di Juventus
Tekanan terhadap Spalletti sebenarnya tidak muncul tiba-tiba. Sebelumnya, Juventus gagal mengamankan tiket Liga Champions pada hari terakhir musim 2025-26, sebuah kegagalan yang membuat banyak pihak kecewa. Akibatnya, muncul seruan dari sebagian kalangan agar Antonio Conte kembali menangani klub, menggantikan posisi Spalletti.
Situasi itu diperberat oleh hasil di Serie A musim ini. Kekalahan dari Sassuolo menjadi pukulan karena gol kemenangan lawan lahir dari pemain yang justru masih terikat kontrak dengan Juventus. Rincian itu membuat kekalahan terasa lebih menyakitkan bagi para pendukung, sekaligus memperbesar keraguan terhadap arah tim di bawah Spalletti.
Dengan hanya tujuh poin dari empat laga, Juventus belum menunjukkan konsistensi yang diharapkan. Deretan hasil ini menjadi konteks penting mengapa laga melawan NEC tidak hanya soal tiga poin, melainkan juga soal kredibilitas dan ketenangan di dalam klub.
Dampak bagi Posisi Spalletti dan Juventus
Bagi Spalletti, cara ia merespons kritik menjadi bagian dari strategi bertahan. Dengan menyatakan bahwa reaksi negatif tidak menarik baginya, ia berupaya memindahkan fokus publik dari dirinya ke performa tim di lapangan. Pendekatan semacam ini lazim dipakai pelatih untuk melindungi pemain dari tekanan berlebihan.
Namun, dampaknya tidak bisa sepenuhnya dikendalikan oleh pernyataan di konferensi pers. Selama hasil di lapangan belum membaik, wacana soal pergantian pelatih berpotensi terus muncul, terutama bila ada nama besar seperti Conte yang dikaitkan dengan kursi kepelatihan. Laga melawan NEC karena itu bisa menjadi momen penting untuk meredam tekanan tersebut.
Di sisi lain, para pemain Juventus juga menghadapi tantangan tersendiri. Mereka harus tampil di kompetisi Eropa dengan kepercayaan diri yang baru saja terguncang oleh kekalahan di akhir laga. Kemampuan mengelola beban psikologis ini akan sangat menentukan kualitas penampilan mereka.
Rekor Juventus Kontra Klub Belanda dan Catatan Spalletti
Secara statistik, Juventus tidak selalu nyaman menghadapi tim asal Belanda di kompetisi Eropa utama. Dari enam pertandingan terakhir melawan klub Belanda, Bianconeri hanya menang dua kali, dengan dua hasil imbang dan dua kekalahan. Pertemuan dengan NEC ini sendiri menjadi yang pertama sepanjang sejarah kedua klub.
Bagi Spalletti, kompetisi ini bukan hal baru. Juventus menjadi klub kelima yang ia tangani di Europa League sejak musim 2009-10, setelah sebelumnya menangani Zenit St Petersburg, Roma, Inter, dan Napoli. Catatannya pun terbilang solid: dari 18 pertandingan di fase grup kompetisi ini, ia hanya kalah dua kali, dengan 12 kemenangan dan empat hasil imbang.
Rekor itu memberi gambaran bahwa Spalletti tahu bagaimana mengelola pertandingan-pertandingan fase grup yang sering kali menyimpan jebakan. Pengalaman bersama empat klub berbeda sebelumnya menjadi modal penting, terutama ketika harus menghadapi lawan yang secara nama tidak lebih besar tetapi mampu menyulitkan.
Waspadai NEC: Tadic dan Permainan Inverted Winger
Spalletti tidak menganggap NEC sebagai lawan yang bisa diremehkan. Ia menyebut NEC memiliki pemain-pemain kuat seperti Tadic, dan menilai tim asal Belanda itu bermain dengan inverted winger karena ingin mengarahkan serangan menuju gawang. Karakter permainan seperti itu, menurutnya, menuntut kesiapan mental yang tinggi dari Juventus.
Jika tidak siap, Spalletti memperingatkan bahwa pertandingan bisa berubah menjadi malam yang tidak nyaman. Ia memperkirakan NEC akan menyiapkan rencana permainan yang bersifat khusus dengan banyak ide berkualitas. Karena itu, Juventus harus benar-benar waspada agar tidak dikejutkan oleh lawan.
Peringatan ini menunjukkan bahwa Spalletti tetap menaruh perhatian besar pada aspek teknis, meski ia mengaku tidak ambil pikir terhadap kritik. Fokusnya kini terbagi antara menjaga ketenangan tim dan menyiapkan taktik yang tepat untuk meredam kekuatan NEC.
Kesimpulan
Menghadapi sorotan setelah kekalahan dari Sassuolo dan kegagalan di Liga Champions, Spalletti memilih bersikap tenang dan menentukan sendiri hal-hal yang layak diprioritaskan. Juventus kini bersiap menjamu NEC di laga perdana Europa League 2026-27 dengan catatan yang perlu diperbaiki, baik dari sisi hasil di Serie A maupun rekornya melawan klub Belanda. Pengalaman Spalletti di kompetisi ini menjadi modal, tetapi peringatannya soal kualitas NEC menegaskan bahwa laga Kamis nanti tidak akan berjalan mudah.
