Lamine Yamal Yakin Piala Dunia Perkuat Peluang Ballon d’Or

Lamine Yamal menilai keberhasilannya mengangkat trofi Piala Dunia bersama Spanyol akan memperbesar peluangnya memenangi Ballon d’Or. Pemain muda Barcelona itu menyebut gelar juara dunia sebagai keunggulan yang tidak dimiliki semua pesaingnya. Dalam perburuan penghargaan tersebut, Harry Kane dan Kylian Mbappe dianggap sebagai rival terberatnya.

Keyakinan itu disampaikan menjelang malam penghargaan yang dijadwalkan berlangsung pada 26 Oktober mendatang. Yamal memang tidak pernah malu menyuarakan ambisinya, terutama setelah menjalani musim yang solid bersama Barcelona dan tim nasional Spanyol. Pelatih Spanyol, Luis de la Fuente, bahkan secara terbuka menegaskan bahwa salah satu pemainnya layak menerima trofi itu, persis seperti yang terjadi pada Rodri ketika Spanyol menjuarai Euro 2024.

Statistik Lamine Yamal Sepanjang Musim Lalu

Argumen utama Yamal berdiri di atas catatan angkanya sendiri. Sepanjang musim lalu, ia mencetak 24 gol dan menyumbang 17 assist dalam 45 pertandingan di semua kompetisi. Kontribusi itu membantu Barcelona mempertahankan gelar LaLiga, sementara total 41 keterlibatan golnya menjadi yang keenam terbanyak di antara seluruh pemain dari lima liga teratas Eropa.

Angka tersebut melengkapi gambaran pemain yang lebih dari sekadar penyelesai serangan. Yamal tercatat sebagai pemain dengan percobaan dribel terbanyak (429) sekaligus dribel sukses terbanyak (225) di kompetisi yang ia jalani. Ia juga memimpin dalam hal penciptaan peluang setelah membawa bola, dengan 59 peluang tercipta dari aksi individunya.

Meski begitu, perjalanan musimnya tidak berjalan mulus sepenuhnya. Cedera hamstring membuat musim 2025-26 miliknya berakhir lebih cepat, sehingga dampak individunya di Piala Dunia pun terbatas. Kondisi ini justru membuat trofi Piala Dunia menjadi pijakan penting dalam narasi pencalonannya, karena gelar kolektif menutupi minimnya kontribusi personal di turnamen tersebut.

Dukungan Luis de la Fuente dan Peta Pesaing

Pada Selasa, De la Fuente menyatakan bahwa salah satu pemain asuhannya pantas memenangi Ballon d’Or. Ia menarik paralel dengan momen Euro 2024, ketika Rodri membawa Spanyol juara dan kemudian mengukuhkan namanya sebagai penerima penghargaan bergengsi itu. Pernyataan tersebut memberi bobot tambahan pada kampanye Yamal, karena datang langsung dari pelatih yang membimbingnya meraih gelar dunia.

Yamal sendiri menyetujui pandangan sang pelatih. Ia menyadari bahwa trofi Piala Dunia adalah modal berharga dalam penilaian individual, terutama pada tahun yang diwarnai turnamen besar. Sementara itu, Kane dan Mbappe tetap dipandang sebagai penantang utama yang bisa menggeser posisinya.

Kendati percaya diri, Yamal tidak menutup pintu terhadap kemungkinan penilaian lain. Ia menegaskan bahwa pandangan siapa pun yang menyebut nama pesaingnya layak menang tetap harus dihormati. Sikap itu menunjukkan bahwa ia memilih membangun kredibilitas lewat performa, bukan lewat klaim berlebihan.

Mengapa Trofi Piala Dunia Menjadi Pembeda

Bagi Yamal, Ballon d’Or adalah penghargaan bagi pemain terbaik tahun itu, sosok yang berbeda dari yang lain dan menyenangkan untuk ditonton. Dalam wawancara dengan L’Equipe, ia menggambarkan penerimanya sebagai pemain yang memiliki keajaiban tersendiri, yang membuat orang tersenyum dan rela menonton pertandingan hanya demi melihatnya bermain. Deskripsi itu jelas menggambarkan cara ia memahami nilai dirinya.

Ia menempatkan gaya bermainnya sebagai argumen terkuat. Menurut Yamal, caranya mengolah bola adalah hal yang membuatnya berbeda dari pemain lain. Namun ia juga menekankan satu hal penting: menjadi pemain bagus saja tidak cukup jika tidak mampu membuat timnya menang.

Dari sana, ia menyorot keuntungan utamanya tahun ini. Yamal menyadari bahwa dirinya berhasil menjuarai Piala Dunia, dan hal itu menjadi nilai tambah dalam perbandingan dengan para pesaing. Meski demikian, ia tetap menegaskan bahwa anggapan orang lain, termasuk jika ada yang menilai Lionel Messi atau Rodri lebih layak, sepenuhnya dapat dihormati.

Gelar itu sendiri baru diraih sekitar dua bulan sebelum pernyataannya, ketika Spanyol memastikan gelar dunia kedua mereka di Amerika Utara. Akun resmi Spanish Football bahkan mengenang momen tersebut melalui unggahan yang menuliskan, “Dua bulan lalu. Kami menciptakan sejarah.” Momentum inilah yang membuat nama Yamal terus dikaitkan dengan penghargaan individual.

Tak Ingin Dibandingkan dengan Messi

Lahir dan besar di akademi Barcelona, Yamal memang tidak pernah lepas dari perbandingan dengan Lionel Messi. Perbandingan itu semakin menguat setelah ia tampil lebih menonjol daripada Messi pada laga final Piala Dunia, saat Spanyol mengalahkan Argentina lewat perpanjangan waktu. Sorotan terbanyak pada laga sebesar itu otomatis melahirkan ekspektasi yang besar pula terhadap dirinya.

Namun pemain berusia 19 tahun itu menolak dikurung dalam bayang-bayang siapa pun. Ia menyatakan bermain untuk menciptakan sejarah, agar 30 tahun mendatang orang-orang muda berkata bahwa dirinya juga benar-benar hebat. Ia tidak ingin membandingkan diri dengan siapa pun, ingin dikenal sebagai Lamine Yamal, dan berharap bisa masuk jajaran pemain terbaik sepanjang masa.

Pernyataan tersebut menunjukkan cara Yamal mengelola tekanan yang menyertai statusnya. Alih-alih menerima label sebagai penerus pemain tertentu, ia memilih membangun identitas sendiri sebagai pesepak bola. Pendekatan itu juga sejalan dengan cara ia membangun argumen pencalonan Ballon d’Or, yakni lewat pencapaian nyata, bukan lewat warisan nama besar.

Ujian Berikutnya di Wembley

Setelah berbicara di luar lapangan, Yamal kini bersiap membuktikan ucapannya di atas rumput. Spanyol akan bertandang ke Wembley untuk menghadapi Inggris pada laga pembuka Nations League, Sabtu mendatang. Pertandingan sebesar itu menjadi panggung ideal untuk menjaga momentum sebelum malam penghargaan 26 Oktober.

Spanyol datang dengan rekor yang mengesankan. Mereka sedang mempertahankan rentetan 38 pertandingan tanpa kalah, dengan rincian 29 kemenangan dan 9 hasil imbang. Catatan itu tercatat sebagai rentetan terpanjang yang pernah dibuat oleh sebuah negara Eropa.

Laga kontra Inggris sekaligus menjadi konteks yang lebih luas bagi kisah Yamal. Penampilan di level tim nasional yang terus berlanjut akan memperkuat narasi bahwa ia mampu tampil menentukan di panggung-panggung besar. Jika konsisten, apa pun hasil pemungutan suara nanti, posisinya sebagai salah satu nama utama sepak bola Eropa akan semakin sulit dibantah.

Penutup

Perjalanan Yamal menuju Ballon d’Or berdiri di atas tiga pijakan: statistik yang menonjol bersama Barcelona, gelar Piala Dunia bersama Spanyol, dan keyakinan dari pelatihnya sendiri. Cedera hamstring yang mengakhiri musimnya lebih cepat tidak menghapus pencapaian tersebut, tetapi justru membuat trofi dunia menjadi penyeimbang yang penting. Di sisi lain, Kane dan Mbappe tetap menjadi pesaing yang tidak bisa diremehkan.

Yang membuat posisi Yamal menarik adalah caranya menyikapi semua itu. Ia percaya diri menyebut gaya bermainnya sebagai argumen terkuat, tetapi tetap menghormati penilaian orang lain dan menolak hidup dalam perbandingan dengan Messi. Ujian di Wembley akhir pekan nanti akan menjadi langkah berikutnya dalam membuktikan bahwa dirinya layak diperhitungkan sebagai pemain terbaik tahun ini.